Senin, 08 Juli 2013

Benthos


I.                   PENDAHULUAN
    1.1  Latar Belakang
       Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat yang sangat berdaya guna,yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar dari pada zat cair lainnya.  Sifat-sifat ini dapat dilihat dari banyak unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air laut (Hutabarat, S & S.M. Evans. 2005)
Masing-masing habitat mempunyai ciri-ciri tersendiri dan adanya perubahan lingkungan dimana habitat itu tinggal, maka akan menyebabkan jumlah jenis dari kelimpahan organisme yang hidup di dalamnya berbeda-beda. Walaupun mempunyai lingkungan hidup yang berbeda-beda, tetapi pada masing-masing habitat tersebut terdapat interaksi antara faktor biotik dan abiotik.
Perairan umum adalah bagian permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi oleh air baik air tawar, air payau, maupun air laut, mulai dari garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami ataupun buatan (UU No. 7, 2004).
Perairan umum meliputi sungai, sungai mati (oxbow lake), lebak-lebung (floodplain), saluran irigasi, kanal, estuaria, danau, situ, waduk, rawa, goba (lagoon), genangan air (telaga, kolong-kolong, dan legokan-legokan) (Fajri & Agustina, 2013).
Kualitas suatu perairan sangat berpengaruh terhadap kemampuan produktifitas fitoplankton, penurunan kualitas perairan akan menyebabkan penurunan kelimpahan fitoplankton yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kelayakan suatu perairan untuk kegiatan perikanan.
 Rendahnya tingkat produktivitas di perairan pada umumnya berhubungan dengan tingkat atau cara pengeloaan yang baik.  Cara ini membahayakan kelestarian populasi ikan di perairan tersebut.  Akibat tidak adanya perhitungan sama sekali mengenai populasi ikan pada tahun-tahun berikut (Odum, E.P, 1971)

1.2 Tujuan dan Manfaat Praktikum
Tujuan diadakan praktikum ini adalah mahasiswa dapat melihat dan mengamati serta mengetahui bagaimana keadaan perairan yang terdapat di waduk Fakultas Perikanan Universitas Riau dengan melakukan berbagai penelitian. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui kategori-kategori perairan yang masih baik atau yang sudah tercemar, dan jenis-jenis bentos yang terdapat di perairan tersebut.
 Manfaat diadakannya praktikum ini yaitu setiap mahasiswa dapat langsung terjun kelapangan serta dapat langsung melihat atau mempraktekkan  bagaimana cara meneliti perairan sehingga dapat diketahui apakah perairan tersebut masih baik atau sudah tercemar.
  

II. TINJAUAN PUSTAKA
Air adalah suatu zat pelarut yang bersifat yang sangat berdaya guna,yang mampu melarutkan zat-zat lain dalam jumlah besar dari pada zat cair lainnya.  Sifat-sifat ini dapat dilihat dari banyak unsur-unsur pokok yang terdapat dalam air laut (Hutabarat, S & S.M. Evans. 2005)
Berdasarkan habitatnya, Aquatic ecosystem atau ekologi perairan terbagi atas 3 jenis yaitu: (Fajri & Agustina, 2013)
a.       Fresh Water Aquatic, yaitu habitat air tawar yang terdiri dari perairan mengalir (lotic) dan perairan tergenang (lentic).
b.      Marine Water Aquatic, yaitu habitat air laut yaitu suatu habitat yang menitikberatkan pada pola hubungan antar jasad dan hubungan antara jasad dengan laut sebagai lingkungannya.
c.       Brackhis Water Aquatic, yaitu habitat air payau atau habitat estuaria yaitu suatu habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. laut tercampur dengan air tawar sehingga sering juga disebut daerah ekoton atau daerah peralihan.
Bentos mencakup semua organisme yang hidup didasar atau di dalam dasar perairan.  Berdasarkan ukurannya, bentos dikelompokkan menjadi makrobentos (tersaring dengan alat saringan bertingkat atau SIEVE SET.  US.  30) dan mikrobentos.  Menurut Fachrul (2007) ukuran bentos diantaranya adalah makrobentos yaitu 1,0 -5,0 mm, mesobentos yaitu 0,1 -1,0 mm dan mikrobentos yaitu < 0,1 mm.  Sedangkan menurut batasan biologis digolongkan menjadi fitobentos (golongan tumbuhan) dan zoobentos (golongan hewan) (Fajri & Agustina, 2013). 
Peranan bentos di perairan (Fajri& Agustina, 2013)  :
a. Mampu mendaur ulang bahan organik
b.Membantu proses mineralisasi
c. Menduduki posisi penting dalam rantai makanan
d.      Indikator pencemaran
Pengambilan contoh bentos di danau atau sungai yang berarus lemah serta subtrat dasar yang lunak, umumnya menggunakan Ekcman Grab. Untuk pengambilan bentos di sungai yang dangkal dan subtrat dasar yang keras / bebatuan digunakan Surber atau Square-Foot Sampler dan atau bingkai kuadrat.  Untuk perairan pantai atau laut yang dangkal yang subtract dasarnya keras digunakan Petersan Grab atau Smith-Mc Intyre Grab atau Ongel Peel Sampler atau Shipek Grab.  Pengumpulan bentos pada masing-masing lokasi dapat secara acak maupun secara stratifikasi (Dahuri, 1997). Metode pengambilan sample bentos menurut Suin (2002) dapat dilakukan dengan :
a.       Metode kolonisasi (dengan container sampler atau core sampler)
b.      Metode perangkap (dengan trap sampler)
c.       Metode tangkap segera (immediate sampler dengan surbur, pipa paralon, eckman grab, atau Petersen grab)
A.    Penghitungan Kelimpahan Bentos
K = P x 10000 / luas penampang alat
 
Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung kelimpahan makrobentos adalah menurut Dahuri (1997):

Keterangan:
K         = Kelimpahan bentos (ind/l)
P          = Individu yang ditemukan
10.000 = Kalibrasi dari 1 meter perkiraan kawasan pelemparan alat
            Apabila alat yang digunakan adalah pipa paralon yanag dirancapkan ke substrat dasar, perhitungan kelimpahan organisme bentos yang tertangkap adalah dengan perhitungan :
K = P x 10000 (cm) / luas penampang paralon (cm2)
 
           

B.     Perhitungan Indeks Keragaman Jenis (H’)
Menurut Wilham dan Dorris (dalam Odum, 1971) apabila:
d(H’) → > 3 maka perairannya belum tercemar
d(H’) → > 1 s/d 3 maka perairannya tercemar ringan
d(H’) → < 1 maka perairannya tercemar berat
Menurut Staub et al dalam wilhm (dalam Odum, 1971) apabila:
d(H’) → 3 s/d 4.5 maka perairannya belum tercemar
d(H’) → 2 s/d 3.0 maka perairannya tercemar ringan
d(H’) → 1 s/d 2.0 maka perairannya tercemar sedang
d(H’) → 0.0 s/d 1.0 maka perairannya tercemar berat
Menurut Shannon Weiner (dalam Odum, 1971) apabila:
H’ = 0.0-1.0         : rendah, artinya keragaman rendah dengan sebaran individu tidak merata.
H’ = 1.0-3.0         : sedang, artinya keragaman sedang dengan sebaran individu sedang.
H’ = 3.0 ke atas   : tinggi, artinya keragaman tinggi dengan sebaran      individu tinggi.
Keragaman jenis dipengaruhi oleh:
1.      Kondisi lingkungan (iklim) semakin sesuai kondisi lingkungan kesragaman jenis semakin tinggi atau semakin kaya jenisnya.
2.      Semakin baik lingkungannya semakin banyak keragamannya (semakin kaya jenisnya).
3.      Adanya pergantian musim dapat mempengaruhi keragaman jenis.
4.      Kondisi makanan dapat mempengaruhi keragaman jenis (Fajri & Agustina, 2013).

C.    Perhitungan Dominasi Jenis (C)
Suatu komunitas dapat didominasi oleh satu atau lebih jenis.  Jenis-jenis yang dominan ini paling banyak jumlahnya, paling tinggi biomasnya, menempati paling banyak ruang, paling berperan dalam aliran energi dan siklus hara atau dengan atau dengan kata lain menguasai anggota-anggota lain dari komunitas.
Jenis yang dominan ialah jenis-jenis yang dapat menempatkan (memamfaatkan) sumber daya lingkungan yang ada lebih efisien dibandingkan dengan jenis-jenis lain.  
Dominan atau tidaknya suatu jenis dalam suatu ekosistem dapat diukur dengan berbagai cara yaitu:
1. Dengan menentukan banyaknya individu dari jenis (abundance) / satuan luas.
2. Dengan melihat luas areal yang ditempati oleh masing-masing jenis.
3. Sering atau tidaknya suatu jenis tersebut dijumpai (Fajri & Agustina, 2013)

D.    Perhitungan indeks keseragaman jenis
Untuk melihat keseimbangan penyebaran makrozoobentos dapat diketahui dengan menggunakan rumus Pilou (dalam Krebs, 1985) yakni :

            Menurut Weber (1973), apabila nilai E mendekati 1 (> 0,5) berarti keseragaman organisme dalam suatu perairan berada dalam keadaan seimbang berarti tidak terjadi persaingan baik terhadap tempat maupun makanan. Sebaliknya apabila nilai E mendekati 0 (< 0,5) berarti keseragaman jenis organisme tidak seimbang, terjadi persaingan baik dari tempat maupun makanan.

4.1.2.  Perhitungan Struktur Komunitas Organisme Bentos
Mencari indeks keanekaragaman jenis dilakukan menurut Shannon-wienner (dalam Odum, 1971) yang disimbolkan dengan H’.
Diketahui:
Log 2                = 3.321928
pi                     = ni/N, dimana N=total nilai kelimpahan
Log pi              = logaritma dari nilai pi
Log2 pi             = log2 x log pi
Pi log2 pi          = pi x (log2 pi)
Rumus indeks keanekaragaman yang digunakan: H’= -∑ pi log2 pi
Nilai indeks     H’= -∑ pi log2 pi
                             = -(- 1,474)
                            = 1,474 (Sedang)
4.1.3. Perhitungan Indeks Dominasi (C)
Nilai indeks C = ∑ (ni/N)2 = 0,38 (mendekati 0, sehingga tidak ada yang mendominasi).


4.2. Pembahasan
Dari nilai-nilai indeks keragaman jenis yang kita peroleh dapat menjadi penentu kualitas lingkungan perairan tempat diambilnya air sampel dan sebaran individu organisme yang ada pada suatu ekosistem yaitu sebagai berikut.
Menurut Wilhm dan Dorris (dalam Odum, 1971), perairan mengalami pencemaran ringan karena nilai H’ antara 1 s/d 3.  Menurut Staub et al dalam Wilhm (dalam Odum, 1971), tingkat pencemaran perairan sedang karena nilai H’ antara 1 s/d 2,0
Menurut Shannon Weiner (dalam Odum, 1971), perairan memiliki keragaman sedang dengan sebaran individu sedang karena nilai H’ antara 1,0 s/d 3,0.  Dengan demikian perairan tersebut mengalami tekanan (gangguan) yangs edang atau struktur komunitas organism yang ada sedang.
Nilai indeks dominasi (C) jenis antara 0-1. Apabila nilai C mendekati nol berarti tidak ada jenis yang mendominasi dan apabila nilai C mendekati 1 berarti ada jenis dominan yang muncul di perairan tersebut  Berdasarkan penjelasan di atas, maka tidak terdapat jenis yang mendominasi di perairan tersebut.
            Sedangkan tingkat keseragaman jenisnya seimbang karena nilai E mendekati 1.  Menurut Weber (1973) apabila nilai E mendekati 1 berarti keseragaman organism suatu perairan dalam keadaan seimbang, tidak terjadi persaingan baik terhadap tempat maupun makanan. Sebaliknya, apabila niali E mendekati 0 berarti keseragaman jenis organism perairan tersebut tidak seimbang, terjadi persaingan pada tempat maupun makanan.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Dari hasil pratikum ini didapatkan bahwa waduk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau memiliki sebaran individu sedang (keragamannya sedang) berarti perairan tersebut mengalami tekanan (gangguan) yang sedang atau struktur komunitas organisme yang sedang. Selain itu, tidak ada jenis organisme yang mendominasi di waduk serta keseragaman organisme dalam waduk berada dalam keadaan seimbang berarti tidak terjadi persaingan baik terhadap tempat maupun terhadap makanan.
5.2. Saran
Adapun saran-saran yang diberikan antara lain adalah diadakannya pembersihan di sekeliling maupun di dalam waduk. Mengingat banyak dari sampah-sampah yang terdapat di luar dapat masuk ke dalam perairan dan berakibat bertambahnya kadar kekeruhan (turbidity) perairan dan padatan tersuspensi (TSS) perairan tersebut. selain itu diperlukannya tumbuhan yang lebih banyak di sekitar perairan agar kadar oksigen dapat bertambah di udara, sehingga asupan oksigen bagi makhluk hidup di dalam, permukaan, dasar air, maupun makhluk hidup di darat sekitar perairan dapat terpenuhi.
 
DAFTAR PUSTAKA
Fajri & Agustina. 2013. Penuntun Pratikum Ekologi Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Pekanbaru.UR press.pekanbaru
Odum, E. P., 1971. Fundamentals of Ecology. W. B. Saunder Company. Philadelphia. 574 hal.
Sachlan, 2006. Planktonologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-Unri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar